Selasa, 18 September 2012

teori belajar menurut aliran behavioristik dan landasan filosofinya



TEORI BELAJAR MENURUT ALIRAN BEHAVIORISTIK DAN LANDASAN FILOSOFINYA
Untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah belajar dan Pembelajaran dengan dosen pengampu Prof. Dr. H. Karwono, M.Pd

Disusun oleh
Kelompok 1
1.      Ari puspita                             11320085
2.      Lilis Nurmayuni                    11320071
3.      Monica Rahmawati               11320043
4.      Nurul Rahma Hidayati         11320075

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
2012


KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah Belajar dan Pembelajaran ini.
Terima kasih kami ucapkan kepada Dosen pembimbing mata kuliah Belajar dan Pembelajaran, Bapak Prof. Dr. H. Karwono,M.Pd yang telah meluangkan waktu dan kesempatan membimbing dan mengarahkan kami dalam penulisan makalah ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya.
Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua,khususnya kami sendiri, Amin.
Wassallamualaikum wr.wb
                                                                                               Metro,September 2012


Penulis











DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR.................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................1
1.1.   Latar belakang..................................................................................1
1.2.   Tujuan................................................................................................2
1.3.   Manfaat..............................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................3
2.1.   Pengertian Teori Behavioristik.........................................................3
2.2.   Landasan Filosofis Teori Behavioristik............................................5
2.3.   Teori Belajar Menurut Beberapa Tokoh.........................................6
2.4.   Aplikasi Teori Belajar Behavioristik Dalam Pembelajaran...........15
BAB III PENUTUP.........................................................................................20
3.1. Kesimpulan............................................................................................20
3.2. Saran......................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Teori belajar Behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Gage, Berliner, 1984) Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.



1.2 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk :
  1. Mengetahui implikasi teori behaviorisme
  2. Untuk mengetahui penerapan dalam teori behaviorisme
  3. Untuk mengetahui tujuan pembelajaran teori behaviorisme
  4. Untuk mengetahui teori – teori yang mendukung teori behaviorisme
1.3 Manfaat
Adapaun manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu kita dapat mengetahui implikasi pembelajaran dari teori behaviorisme, untuk mengetahui penerapan dalam teori behaviorisme, dan untuk mempermudah kita dalam mengetahui pembelajaran serta teori – teori yang mendukung teori behaviorisme tersebut.



















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Teori Behavioristik
Dalam teori behavioristik, ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus).
Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya.
Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar.
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997).
Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.
Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.
Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.
Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.

Menurut Arden N. Frandsen mengatakan bahwa hal yang mendorong seseorang itu untuk belajar antara lain sebagai berikut:
1.      Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas;
2.      Adanya sifat kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju;
3.      Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman-teman;
4.      Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetensi;
5.      Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman;
6.      Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pada belajar.

2.2 Landasan Filosofis Teori Belajar Behavioristik
Landasan filosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan makna hakikat sesuatu, yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok seperti: apakah sesuatu itu, mengapa sesuatu itu dtperlukan, apa yang seharusnya menjadi tujuannya dan sebagainya .
Dalam melaksanakan terori ini ada beberpa prinsip yang harus diperhatikan. Prinsip-prinsip itu adalah;
a)      Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak.
b)      Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
c)       Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
d)     Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
e)      Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
f)       Banyak ahli membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.

2.3 Teori Belajar Menurut Beberapa Tokoh
1)      Pavlov
Ivan Pavlov terkenal dengan teori kondisioning klasik(classical conditioning),yait sejenis pembelajaran dimana sebuah organisme belajar untuk menghubungkan atau mengasosiasikan stimulus dengan respon. Dalam pengkondisian klasik,sebuah stimulus netral (contoh:bel) menjadi diasosiasikan dengan stimulus yang mempunyai makna(contoh:makana) dan mendatangkan kepastian untuk mendatangkan respon yang sama. Untuk memahami teori kondisioning klasik secara menyeluruh perlu dipahami bahwa ada dua jenis stimulus dan dua jenis respon. Dua jenis stimulus tersebut adalah stimulus yang tdak terkondisi (unconditioned stimulus-UCS),yaitu stimulus yang secara otomatis menghasilkan respon tanpa didahului dengan pembelajaran apa pun (contoh:makanan) dan stimulus terkondisi (conditioned stimimulus-CS), yaitu stimulus yang sebelumnya bersifat netral,akhirnya mendatangakan sebuah respon yang terkondisi setelah diasosiasikan dengan stimulus tidak terkondisi(contoh:suara bel sebelum makan dating).
Dua respon tersebut adalah respon yang tidak terkondisi (unconditioned respon-UCS), yaitu sebuah respon yang tidak terkondisi (contoh:keluarnya air liur anjing setelah melihat makanan) dan respon bterkondisi(conditioned respon-CR), yaitu sebuah respon yang dipelajari terhadap stimulus yang terkondisi yang terjadi setelah terkondidi dipasangkan dengan stimulus terkondisi(contoh:keluarnya air liur anjing setelah melihat makanan yang bersama dengan suara bel).

v  Generalisasi,Deskriminasi,dan Pembelajaran
Faktor lain yang juga penting dalam teori belajar pengkondisian klasik Pavlov adalah generalisasi,deskriminasi,dan pelemahan.
a.       Generalisasi.
Dalam mempelajari respon terhadap stimulus serupa, anjing akan mengeluarkan air liur begitu mendengar suara-suara  yang mirirp dengan bel, contoh suara peluit (karena anjing mengeluarkan air liur ketika bel dipasangkan dengan makanan). Jadi,generalisasi melibatkan kecenderungan dari stimulus baru yang serupa dengan stimulus terkondisi asli untuk menghasilkan respon serupa. Contoh, seorang peserta didik merasa gugup ketika dikritik atas hasil ujian yang jelek pada mata pelajaran matematika. Ketika mempersiapkan ujian Fisika, peserta didik tersbut akan merasakan gugup karena kedua pelajaran sama-sama berupa hitungan. Jadi kegugupan peserta didik tersebut hasil generalisasi dari melakukan ujian mata pelajaran satu kepada mata pelajaran lain yang mirip.

b.      Deskriminasi.
Organisme merespon stimulus tertentu, tetapi tidak terhadap yang lainnya. Pavlov memberikan makanan kepada anjing hanya setelah bunyi bel, bukan setelah bunyi yang lain untuk menghasilkan deskriminasi. Contoh, dalam mengalami ujian dikelas yang berbeda, pesrta didik tidak merasa sama gelisahnya ketika menghadapi ujian bahasa Indonesia dan sejarah karena keduanya merupakan subjek yang berbeda.

c.       Pelemahan (extincition).
Proses melemahnya stimulus yang terkondisi dengan cara menghilangkan stimulus tak terkondisi. Pavlov membunyikan bel berulang-ulang, tetapi tidak disertai makanan. Akhirnya, dengan hanya mendengar bunyi bel, anjing tidak mngeluarkan air liur. Contoh, kritikan guru yang terus menerus pada hasil ujian yang jelek, membuat peserta didik tidak termotivasi belajar. Padahal, sebelumnya peserta didik pernah mendapat nilai ujian yang bagus dan sangat termotivasi belajar.
Dalam bidang pendidikan, teori kondisioning klasik digunakan untuk mengembangkan sikap yang menguntungkan terhadap pesrta didik untuk termotivasi belajar dan membantu guru untuk melatih kebiasaan positif pesrta didik.

2)      Skinner
            B.F.Skinner terkenal dengan teori pengkondisia operan (operant conditioning) atau juga disebut pengkondisian instrumental (instrumental conditioning), yaitu suatu bentuk pembelajaran dimana konsekuensi perilaku menghasilkan berbagai kemungkinan terjadinya perilaku tersebut. Penggunaan konsekuensi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk mengubah perilaku itulah yang disebut dengan pengkondisian operan.
            Prinsip teori Skinner ini adalah hukum akibat, penguatan atau penghargaan,dan konsekuensi. Prinsip hukum akibat menjelaskan bahwa perilaku yang diikuti hasil positif akan diperkuat dan perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah. Penguatan merupakan suatu konsekuensi yang meningkatkan peluang terjadinya suatu perilaku. Konsekuensi adalah suatu kondisi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan yang terjadi setelah perilaku dan memengaruhi frekuensi prilaku pada waktu yang akan dating. Konsekuensi yang menyenangkan disebut tindakan penguatan dan konsekuensi yang tidak menyenangkan disebut hukuman.
a.      Penguatan (Reinforcement)
Menurut Skinner, untuk memperkuat perilaku atau menegaskan perilaku diperlukan suatu penguatan (reinforcement). Ada juga jenis penguatan, yaitu penguatan positif dan penguatan negative.

  Penguatan positif (positive reninforcement) didasari prinsip bahwa frekuensi dari suatu respon akan meningkat karena diikuti oleh suatu stimulus yang mengandung penghargaan. Jadi, perilaku yang diharapkan akan meningkat karena diikuti oleh stimulus menyenangkan. Contoh, peserta didik yang selalu rajin belajar sehingga mendapat rangking satu akan diberi hadiah sepeda oleh orang tuanya. Perilaku yang ingin diulang atau ditingkatkan adalah rajin belajar sehingga menjadi rangking satu dan penguatan positif/stimulus menyenangkan adalah pemberian sepeda.
  Penguatan negatif (negatve reinforcement) didasari prinsip bahwa frekuensi dari suatu respon akan meningkat karena diikuti dengan suatu stimulus yang tidak menyenangkan yang ingin dihilangkan. Jadi, perilaku yang diharapkan akan meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang tidak menyenangkan. Contoh, pesreta didik sering bertanya dan guru menghilangkan/tidak mengkritik terhadap pertanyaan yang tidak berkenan dihati guru sehingga peserta didik akan sering bertanta. Jadi, perilaku yang ingin di ulangi atau ditingkatkan adlah sering bertanya dan stimulus yang tidak menyenangkan yang ingin dihilangkan adalah kritikan guru sehingga peserta didik tidak malu dan akan sering bertanya karena guru tidak mengkritik pertanyaan yang tidak berbobot/melenceng.
b.      Hukuman
Hukuman (punishmen) yaitu suatu konsekuensi yang menurunkan peluang terjadinya suatu perilaku. Jadi, perilaku yang tidak diharapkan akan menurun atau bahkan hilang karena diberikan suatu stimulus yang tidak menyenangkan. Contoh, peserta didik yang berperilaku mencontek akan diberikan sanksi, yaitu jawabannya tidak diperiksa dan nilainya 0 (stimulus yang tidak menyenangkan/hukuman). Perilaku yang ingin dihilangkan adalah perilaku mencontek dan jawaban tidak diperiksa serta nilai 0 (stimulus yang tidak menyenangkan atau hukuman).
            Perbedaan antara penguatan negatif dan hukuman terletak pada perilaku yang ditimbulkan. Pada penguatan negatif, menghilangkan stimulus yang tidak menyenangkan (kritik) untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan (sering bertanya). Pada hukuman, pemberian stimulus yang tidak menyenangkan nilai 0 untuk menghilangkan perilaku yang tidak diharapkan (perilaku mencontek).

Ø  Jadwal Pemberian Penguatan
   1) Continuos Reinforcement
            Penguatan diberikan secara terus menerus setiap pemunculan respon atau perilaku yang diharapkan. Contoh, setiap anak mau mengerjakan PR (meskipun banyak yang salah), orang tua selalu menghilangkan kritikan (menghilangkan stimulus tidak menyenangkan/memberikan penguat negatif). Setiap anak mau membantu memakai sepatu sendiri ketika akan berangkat sekolah, orang tua selalu memuji (memberikan stimulus yang menyenangkan/penguat positif).

  2)  Partial Reinfocement
            Penguatan diberikan dengan menggunakan jadwal tertentu.
v  Jadwal Rasio Tetap (Fixed interval Schedule – FI),
 yaitu pemberian penguatan berdasarkan frekuensi atau jumlah respon/tingkah laku tertentu secara tetap. Contoh: Guru TK berkata, “Jika kalian sudah selesei mengerjakan 10 saol, kalian mendapat hadiah permen.” Tanpa peduli jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan soal tersebut. Siswa mampu menyelesaikan 10 soal (jumlah perilaku yang diharapkan) dan mendapat hadiah permen (merupakan satu penguatan). Dalam pembelajaran, pelaksanaan penguatan ini dapat ditingkatkan jumlah perilakunya secara bertahap, misalnya meningkat mulai 5 soal dapat dikerjakan mendapat satu penguatan (FR-5), meningkat menjadi 10 soal mampu dikerjakan satu penguatan (FR-10), dan seterusnya. Akhirnya, pesrta didik diharapkan mampu mengerjakan banyak soal dengan satu penguatan atau bahkan tanpa adanya  penguatan.

v  Jadwal Internal Tetap (Fixed Interval Schedule-FI),
Pemberian penguatan berdasarkan jumlah waktu tertentu secara tetap. Dalam, FI jumlah waktunya yang tetap. Contoh ini sangat cocok digunakan seorang ibu untuk melatih anak kecilnya agar mengurangi kebiasaan makan atau minum susu berlebihan. Ibu berkata pada susternya, “Si Badu hanya diberikan susu setiap 1 jam sekali”. Jadi, meskipun Si Bedu menangis, karena belum 1 jam, suster tidak boleh memberikan susu. Minum susu setiap 1 jam (perilaku yang diharapkan) dan pemberian susu oleh suster (penguatan yang diberikan). Jumlah waktu bisa ditingkatkan nenjadi setiap 2 jam (FI-2), 3 jam (FI-3) sampai akhirnya menjadi 4 sekali (FI-4).
v  Jadwal Rasio Variabel ( Variable Ratio Schedule – VR),
Pemberian  penguatan berdasarkan perilaku, tetapi jumlah perilakunya tidak tetap. Jadi, penguatan tetap diberikan untuk perilaku yang diharapkan, tetapi jumlah perilakunya tidak tetap. Contoh paling tepat adalah permainan anak-anak dengan cara memasukkan koin ke mesin untuk mendapatkan hidak tahu pada perilakuadiah. Anak tersebut tidak tahu pada perilaku memasukkan koin yang ke berapa kali, baru memperoleh hadiah.Contoh dalam pembelajaran adalah guru akan memberi nilai tambahan setiap peserta didik (dari 40 peserta didik di kelas) yang menjawab benar. Peserta didik akan mencoba untuk menjawab belum tentu benar berkalli-kali- VR ) dan tambahan nilai (penguat VR).

v  Jadwal Interval Variabel (Variabel Interval Schedule – VI)
Pemberian penguatan pada  suatu perilaku, tetapi jumlah waktunya tidak tetap yaitu tidak dapat ditentukan kapan waktunya tidak tetap. Jika dalam VR, jumlah perilakunya tetap. Dalam VI, jumlah waktunya tidak tetap. Contoh, guru secara acak melakukan pemeriksaan secara keliling di kelas terhadap pekerjaan peserta didik yang menjawab benar dan guru memneri pujian setiap menemukan jawaban benar peserta didik. Peserta didik tidak tahu kapan guru menghampiri dan melihat pekerjaannya serta memujinya jika jawabannya benar. Karena peserta didik tidak tahu kapan gurunyamenghampiri, peserta didik tersebut selalu berusaha mengerjakan dengan benar setiap saat. Peserta didik mengerjakan benarsetiap saat (perilaku-VI) dan guru yang sempat menghampiri dan memberi pujian pada waktu yang tidak tetap (penguatan-VI).

3)   Keefektifan Hukuman
Hukuman hendaknya diberikan untuk perilaku yang sesuai. Terkadang hukuman diberikan terlalu berat, terlalu ringan, bahkan bentuk hukuman yang  tidak ada kaitan dengan pperilaku yang ingin dihilangkan. Contoh: peserta didik yang tidak mengerjakan PR harus keliling lapangan 10 X (hukuman tidak sesuai), mungkin hukuman yang cocok, peserta didik diberikan PR yang lebih banyak daripada temannya, dan lain-lain.

3)      Thondike
Teori belajar Thondike di kenal dengan istilah koneksionisme (connectionism). Teori ini memandang bahwa  yang menjadi dasar terjadinya belajar adalah adanya asosiasi atau menghubungkan antara kesan indera (stimulus) dengan dorongan yang muncul untuk bertindak (respon), yang di sebut dengan connecting. Dalam teori ini juga di kenal istilah selecting, yaitu stimulus yang beraneka ragam di lingkungan melalui proses mencoba-coba dan gagal (trial &error). Setiap organisme jika dihadapkan dengan situasi baru akan melakukan tindakan tindakan yang sifatnya coba-coba. Jika dalam mencoba itu secara kebetulan ada tindakan yang dianggap memenuhi tuntutan situasi, tindakan yang kebetulan cocok itu akan “di pegang”. Karena latihan yang terus menerus, waktu yang digunakan untuk coba-coba itu semakin lama semakin efisien. Dalem teori ini, proses tersebut terjadi secara mekanistik, tanpa penalaran, tidak melihat situasi keseluruhan, dan terjadinya secara bertahap.
Percobaan Thorndike adalah sebagai berikut. Seekor kucing yang lapar dimasukkan ke dalam kandang tertutup yang ada pintunya, tetapi pintu tersebut di beri pedal, apabila pedal di injak, pintu terbuka. Di luar kandang diletakkan sepiring makanan (daging). Apa reaksi kucing/ Mula-mula kucing bergerak ke sana ke mari ml pintu mencoba-coba hendak keluar dari kandang. Lama kelamaan pada suatu ketika secara kebetulan terinjak pedal pintu oleh salah satu kakinya. Pintu kandang terbuka dan kucing keluarlah menuju makanan.
Percobaan di ulangi lagi. Tingkah laku itu meskipun sama seperti pada percobaan pertama, hanya waktu yang dibutuhkan untuk bergerak ke sana ke mari lebih singkat. Setalah diadakan percobaan berkali-kali, akhirnya kucing itu tidak perlu lagi kesana kemari, tetapi langsung menginjak pedal pintu dan terus keluar menuju makanan. Dalam teori koneksionisme, di kenal dengan hukum-hukum Thorndike, yaitu hukum akibat (low of effect), hukum kesiapan(law of readiness), dan hukum latihan (law of exercise)

a.      Hukum Akibat (Low of Effect)
Suati tindakan atau tingkah laku yang mengakibatkan suatu keadaan yang menyenangkan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diulangi, di ingat, dan dipelajari dengan sebaik-baiknya.
Suatu tindakan/tingkah laku yang mengakibatkan suatu keadaan yang tidak menyenangkan (tidak cocok dengan tuntutan situasi) akan dihilangkan atau dilupakan. Tingkah laku ini terjadi secara otomatis. Contoh: Jika dapat membuat lampion dengan rapi, peserta didik merasa sangat puas karenamendapat pujian. Tindakan tersebut akan diulangi, di ingat, dan depelajari dengan sebaik-baiknya bahkan berusaha menjadi lebih baik lagi.


b.      Hukum Kesiapan (Law of Readiness)
Kesiapan untuk bereaksi terhadapsuatu stimilus yang di hadapi sehingga reaksi tersebut menjadi memuaskan. Pernyataan tersebut dapa dijabarkan sebagai berikut:
  Jika individu siap melakukan tindakan, melakukan tindakan itu akan menimbulkan kepuasan. Contoh: Peserta didik yang merasa sangat siap menghadapi ulangan dengan belajar keras, mengikuti ulangan merupakan suatu tindakan yang menyenangkan karena dapat mengerjakan dengan benar.

  Individu siap melakukan tindakan, tidak melakukan tindakan akan menimbulakan kesalahan. Contoh: Peserta didik yang merasa sangat siap menghadapi ulangan dengan belajar keras, maka tidak mengikuti ulangan dengan belajar keras, maka tidak mengikuti ulangan karena ulangan dibatalkan akan menimbulkan rasa tidak puas, mungkin jengkel karena usahanya percuma.

  Jika individu tidak siap melakukan tindakan, maka melakukan tindakan akan menimbulkan kekesalan. Contoh: Peserta didik tidak siap (tidak belajar) untuk menghadapi ulangan yang mendadak , maka tindakan mengikuti ulangan akan menimbulkan kekesalan (merasa tidak menyenangkan-khawatir nilai jelek).   
Jadi dalam melakukan suatu perbuatan (belajar), sering akan di capai hasil yang memuaskan apabila individu siap menerima dan melakukan sesuatu dengan tidak ada hambatan.

c. Hukum Latihan (Law of Exercise)
                 Prinsip dalam latihan ini adalah tingkat frekuensi untuk mempraktikkan (seiringnya menggunakan hubungan stimulus-respon), sehingga hubungan tersebut semakin kuat. Praktik tersebut lebih efektif jika disertai reward. Hukum ini mengenai istilah law of use dan low of disuse.
  Makin sering hubungan antara stimulus & respon dilakukan maka akan makin kuat koneksinya (law of use). Contoh: Guru melempar bola akan peserta didik harus menangkapnya bola (respon). Jika sering dipraktikan, hubungan stimulus-respon semakin kuat,  yang akhirnya peserta didik menjadi terampil menangkap bola.

  Jika hubungan antara stimulus & respon dihentikan untuk periode tertentu, koneksinya akan melemah (law of dis-use). Contoh: Keterampilan peserta didik menangkap bola itu terjadi karena latihan. Jika latihan menangkap bola dihentikan dalam jangka waktu yang relative lama (tidak di latih), lama kelamaan keterampilan menangkap bola menjadi berkurang atau bahkan hilang (hubungan S-R melemah).
Tanpa informasi atau umpan balik yang memberi “reward” hanya terjadi perubahan kecil dalam distribusi respons.

4)      E.RGuthrie
                 Menurur Guthrie,tingkah laku manusia itu secara keseluruhan merupakan rangkaian tingkah laku yang terjadi atas unit-unit. Unit-unit tingkah laku ini merupakan respon-respon dari stimulus sebelumnya dan kemudian unit respon tersebut menjadi stimulus yang kemudian akan menimbulkan respon bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Demikian seterusnya sehingga merupakan deretan tingkah laku yang terus menerus. Jadi proses terbentuknya rangkaian tingkah laku tersebut terjadi dengan kondisioning melalui proses asosiasi antara nit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah laku lainya menjadi semakin kuat. Prinsip belajar pembentukan tingkah laku ini disebut law association.
                 Menurut Guthrie,untuk memperbaiki tingkah laku yang jelek harus dilihat dari rentetan unit-unit tingkah lakunya,kemudian diusahakan untuk menghilangkan atau mengganti unit tingkah laku yang tidak baik dengan tingkah laku yang seharusnya.
Tiga metode mengubah tinhkah laku menurut tingkah laku ini,yaitu:
         I.            Metode respon bertentangan
      II.             Metode membosankan
   III.             Metode mengubah lingkungan


2.4 Aplikasi Teori Belajar Behaviorisme dalam Pembelajaran
                 Untuk mengaitkan teori behaviorisme dengan praktik pembelajaran,perlu dipahami terlebih dulu,mengenai prinsip belajar menerut behaviorisme. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Teori ini beranggapan bahwa yabg dimaksud dengan belajar adalah perubahan tingkah laku.seseorang dikatakan telah belajar sesuatu jika yang bersangkutan dapat menunjukan perubahan tingkah laku tertentu. Perubahan perilaku itu bias negative atau positif bergantung apa yang ingin dipelajari.
2.      Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang dapat diamati,yang terjadi karena hubungan stimulus dan respon,sedangkan proses yang terjadi antara stimulus respon,yang tidak dapat diamati itu tidak penting.
3.      Perlunya Reinforcement untul memunculkan perilaku yang diharapkan. Respons akan semakin kuat jikareinforcement(baik positif maupun negative) ditambah.
                 Penekanan proses belajar menurut teori behaviorisme ini adalah hubungan stimulus dan respon. Dengan demikian,agar pembelajaran dikelas menjadi efektif,hendakya guru perlu memperhatikan  hal-hal berikut:
a.       Guru hendaknya memilih jenis stimulus yang tepat untuk diberikan kepada peserta didik agar peserta dapat memberikan respon yang diharapkan.
b.      Guru hendaknya menentukan jenis respon yang harus dimunculkan oleh peserta didik. Untuk mengetahui apakah respons yang ditunjukan peserta didik benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan,guru harus mampu menetapkan bahwa respons itu dapat diamati dan diuku.
c.       Guru perlu memberikan reward yang tepat untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan muncul dari peserta didiknya.
d.      Guru hendaknya segera memberikan umpan balik secara langsung,sehingga sipelajar dapat mengetahui apakah respons yang diberikan telah benar tau belum.

Ì Meningkatkan Perilaku yang Diinginkan
                 Enam strategi pengkondisian operan dapat dignakan untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan,yaitu :memilih penguat yang efektif,membuat penguat yang bergantung dan tepat waktu,memilih jadwal terbaikuntuk penguatan,mempertimbangkan membuat perjanjian kontrak,menggunakan penguatan negative secara efektif,dan menggunakan arahan seta pembentukan

1.      Memilih Penguat yang Efektif
Guru harus mampu menemukan penguat mana yang berhasil dengan paling baik untuk setiap peserta didiknya, yaitu membedakan setiap individu dalam menggunakan penguat tertentu. Satu jenis penguat tertentu untuk peserta didik A belum tentu cocok untuk peserta didik B. contoh: peserta didik A cocok dengan penguat pujian,peserta didikC cocok dengan aktivitas dengan diberikan aktivitas tertentu yang disukai, dan lain-lain. Untuk mengetahui penguat mana yang disukai dapat ditanyakan langsung kepada peserta didik tentang penguat mana yang paling disukai atau dengan memeriksa sejarah penguatan dari guru lain.

2.      Membuat penguat menjadi bergantung pada tepat dan waktu.
Agar penguat efektif, guru harus memberikan penguat secara tepat waktu dan segera mungkin setelah anak menampilkan perilaku tertentu yang diharapkan.
3.      Pilih jadwal terbaik untuk penguatan
Guru harus memilih jadwal penguatan terbaik sesuai dengan tuntutan perilaku peserta didik yang diharapkan guru. Pilihan jadwal tersebut adalah; jadwal rasio tetap, jadwal rasio variabel, jadwal interval tetap, dan jadwal interval variabel, dan ke empat jenis jadwal penguatan sudah diuraikan sebelumnya.

4.      Pertimbangan untuk Membuat Kontrak
Analisis perilaku terapan menyarankan bahwa kontrak kelas seharusnya merupakan hasil masukan dari guru maupun peserta didik. Pembuatan kontrak melibatkan pembuatan ketergantungan penguatan secara tertulis. Jika masalah timbul, dan peserta didik ingkar janji, guru dapat menunjukkan kontrak yang telah mereka setujui.

5.      Gunakan Pnguatan Negatif secara efektif
Penguatan negative, meningkatkan frekuensi respon dengan menghilangkan stimulus yang tidak disukai. Contoh: stimulus guru yang sering mengkritik atau tidak menghargai jawaban serta pertanyaan peserta didik  harus dihilangkan agar frekuensi bertanya dan frekuensi berani menjawab semakin meningkat.

6.      Gunakan Arahan dan Pembentukan
Arahan merupakan stimulus yang ditambahkan atau isyarat yang diberikan tepat sebelum terjadinya kemungkinan peningkatan respon yang diinginkan. Arahan membantu perilaku terjadi. Setelah peserta didik secara konsisten memperlihatkan respon yang benar, arahan tidak lagi dibutuhkan. Jika arahan belum mampu membuat peserta didik menampilkan perilaku yang diharapkan, guru perlu membantu dengan pembentukan. Pembentukan (shaping) melibatkan pembelajaran perilaku baru dengan memperkuat perkiraan secara berturut-turut terhadap suatu perilaku sasaran.




Ì Mengurangi Perilaku yang Tidak Diinginkan
            Ada beberapa langkah yang dapat digunaka guru untuk mengurangi perilaku anak yang tidak diinginkan, seperti: menganggu teman, memonopoli diskusi kelas, bersikap sok tau pada guru (Alberto & Troutman dalam Santrouck)
1.      Gunakan Penguatan Deferensial
Dalam penguatan deferensial, guru memperkuat perilaku yang lebih pantas atau perilaku yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan anak tersebut. Contoh: guru dapat memperkuat pesrta didik untuk melakukan aktivitas pembelajaran dengan memanfaatkan komputer dari pada komputer hanya dipakai untuk memainkan game.
2.      Hentikan Penguatan (Extinction)
Tanpa disengaja guru memberikan penguatan positif yang justru membuat perilaku pesrta didik yang tidak diharapkan semakin terpelihara. Dengan demikian,guru harus segera menghentikan penguatan positif tersbut agar perilaku yang tidak diharapkan menurun atau hilang dan guru memberikan penguatan positif lagi setelah perilaku yang diharapkan muncul. Contoh, guru selalu memberi perhatian pada pesrta didik yang selalu bertanya dan menjawab dalam acara diskusi kelompok, akhirnya ada pesrta didik yang tanpa sadar mendominasi peserta didik lain hanya untuk mengejar pujian atau nilai. Dalam kasus ini, guru segera menghentikan penguatan dengan cara meminta pesrta didik tersebut agar memberi kesempatan pada teman lain yang belum aktif.

3.      Hilangkan Stimulus yang Diinginkan
Jika menghentikan pemberian penguatan tetap tidak berhasil meningkatkan respon diharapkan, penghilangan stimulus yang diinginkan harus dilakukan oleh guru, dengan cara time out dan respon cost. Time out adalah penghentian penguatan positif terhadap seseorang untuk sementara yaitu hamper sama dengan penghentian penguatan, yang berbeda adalah waktu penghentian penguatan positif lebih lama sampai terbentuk lagi perilaku yang diingikan.
Biaya respon (respon cost) adalah menjauhkan atau menganbil penguatan-penguatan positif dari seseorang, seperti peserta didik kehilangan hak istimewa tertentu, guru dapat menghilangkan waktu 10 menit istirahatnya atau menghilangkan haknya untuk menjadi pemantau kelas.
4.      Hadirkan Stimulus yang Tidak Disukai (Hukuman)
Jenis stimulus yang tidak disukai dan paling umum digunakan guru adalah teguran verbal serta disertai dengan kerutan dahi atau kontak mata. Tindakan ini lebih efektif digunakan ketika guru berada dekat dengan peserta didik. Teeguran tidak harus disertai bentakan atau teriakan, yang seringkali hanya menaikkan tingkat kegaduhan dikelas dan menjadikan guru sebagai model yang tidak terkendali bagi peserta didik.























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian di atas kiranya dapat di simpulkan bahwa Teori Belajar behavioristik adalah teori belajar yang menekankan pada tingkah laku manusia sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Tokoh penting dalam teori belajar behaviorisme secara teoritik antara lain adalah : Pavlov. Skinner, E.L.Thorndke,dan E.R.Guthrie.
Adapun Aplikasi teori behaviorisme dalam pembelajaran yaitu meningkatkan perilaku yang diinginkan dan mengurangi perilaku- perilaku yang tidak diinginkan. Metode behavioristik ini sesuai untuk perolehan kemampaun yang membutuhkan praktek dan pembiasaan juga sesuai diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa.

B. Saran
Dari makalah ini pemakalah memberi  saran kepada pembaca, sebagai calon guru hendaknya kita  untuk menginstrofeksi diri terhadap tingkah laku orang lain ataupun peserta didik agar menjadi pembelajaran bagi kita untuk menjadi lebih baik.












DAFTAR PUSTAKA
Hard,rand.2012.Teori Belajar Behavioristik Dan Penerapannya Dalam Pembelajaran.(online) http://randhard.wordpress.com/ruang-admin/tugas-kuliah/teori-belajar-behavioristik-dan-penerapannya-dalam-pembelajaran/.Diakses pada 14 September 2012 pukul 15.00 WIB

Karwono.2010.Belajar Dan Pembelajaran Serta Pemanfaatan Sumber      Belajar.Ciputat:Cerdas Jaya.

Setiawan,adi.2011.Teori Behavioristik Dan Landasan Filosofisnya.(online)

Zidan.2011.Teori Belajar Behavioristik.(online)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar